Bagi para pengikuti tarekat khususnya Tarekat Qodiriya Naqsabandiyah, nama Syekh Abil Qosim Junaidi Al Baghdadi merupakna salah satu sanad dari sekian sanad terekat. Selayaknya ikwan tarekat minimal hafal tiga orang guru dan alhamdulillah jika hafal sebanyak 36 orang guru.
Beliau (Al Junaidi) sering memberi wejangan kepada ikhwan TQN sering menyampaikan tausiah kepada anak asuhnya. Tausiah-tausiah beliau itu terdapat di beberapa kitab terutama yang bernuansa tasawuf. Banyak sekali nasehat beliau tertulis di sana, antara lain:
Bumi, katanya merupakan tempat berpijak yang memiliki partner yaitu tetesan air hujan yang didahuli dengan awan. Dari tiga unsur itu (bumi, tetesan hujan dan awan) memberikan pelajaran kepada kita sebagai i’tibar yang patut direnungkan.
Pertama, bumi adalah tempat berpijak dari sesuatu yang baik dan tidak baik. BUmi adalah tempat melemparkan sesuatu yang jijik, kotor baik yang dipermukaan maupun yang ada di dalamnya. Semuanya itu diterima oleh sang Bumi. Tetapi begitu sang Bumi berkarya semuanya indah dan mempesona.
Air menjadi bersih, tanaman tumbuh bermacam-macam rasa, warna dan jenisnya. Meskipun tempat itu menjadi pembuangan yang menjijikkan tetapi tumbuh yang indah dan cantik. Seyogyaya, kita sebagai manusia bila diibaratkan sebagai bumi, maka saat kita biasa dicaci, dikritik dan dicemooh hendaknya tetapkanlah agar apa yang kita keluarkan itu sesuatu yang baik karena kita adalah identik dengan bumi.
Sebaliknya, jika sesuatu yang kelur dari diri kita bukan yang baik=baik berarti tidak mengakui kalau kita ini berasal dari bumi. Maka tunggulah bumi akan mengancamnya. Karenanya, jangan sekali-kali keluar dari dalam diri itu sifat sebaliknya. Bumi kita ibarat apa yang ada di dalam badan kita fikir kita. Hak itu karena kita identik dengan bumi, maka tumbuhkanlah dari lidah kit, juga dari fikir kita sesuatu yang baik-baik.
Kedua, karena partner bumi adalah titik air hujan, maka tidak pernah pilih-pilih yang namanya air hujan. semuanya akan diberi rakhmat kesejukan. seyogyanya kita bisa memberikan kesejukan kepada lingkungan kepada keluarga karena kita diibaratkan seperti tiitk air hujan.
Ketiga, Mega (Awan). Keteduhan merupakan sifat mega. siapapun di bawahnya akan merasa dilindungi dari terik matahari. seyogyanya keberadaan kita dimanapun berada, orang sekeliling kita, merasa terayomi oleh kita, Dengan segala nasehatnya yang singkat tetapi padat, beliau (imam Junaidi Baghdadi) yang sering dihadiahi fatekah, setiap waktu, dan karena beliau adalah juga orang tua kita dan guru kita maka yakinlah kalau beliau berada di dalam kelompok kita, dan karena kita pun berada di kelompok TQN.
Kita tahu bahwa tanggung jawab kita adalah di sekitar kita. Ibaratnya, kacang hijau dicomot kemudian ditanam di mana saja. Dicomot lagi sekumpulan dan ditanam di tempat lain. Maka kita sebagai salah satu dari anggota kacang hijau yang dicomot itu bertangung jawab terhadap kelompoknya di antara kelompoknya. Artinya, kita bertanggung jawab terhadap diri kita sendiri dalam membawa dan ikut serta dalam kelompok tersebut.
Jelasnya, kita yang hidup sekarang ini ibaratnya tengah dicomot oleh Allah, lalu diletakkan dimanapun berada. Di situlah kemudian kita berkumpul dalam lingkungan masyarakat. Atau dimanapun dikumpulkan. Maka seperti ktia juga dikumpulkan dalam mejelis dzikir hendaknya kita tetap teguh dan tiedak akan berpisah. Karena kita akan dikumpulkan oleh Allah di akherat kelak. “Yukhsyarunnas ala man ahabba”, tidak akan kumpul dengan kelmpok yang lain. Di sinilah kita perlu energi yang disebut istiqomah.
Demikian nasehat dari orang tua kita, guru kita ikhwan kita, yaitu Abil Qosim Juniadi AL Baghdadi.
Pengajian TQN, Senin, 18 Mei 2009

yang jelas junaidi al bagdadi adalah murid dari salman alfarizi-baba samasi-…at_tusi dst……