Seperti dalam cerita yang direkam Al Quran, Nabi Adam as dahulu tinggal di syurga lalu digoda oleh syetan sehingg keluar. Sorga adalah tempat yang suci. Pertnyaanya setan yang sudah keluar dari sorga sedangkan Nabi Adam as masih berada di dalam, kok bisa-bisanya syetan ini mampu menggoda Nabi Adam as. Bagaimana caranya, padahal syetan tidak mampu masuk ke syurga tetapi nyatanya riwyat itu jelas menyebutkan kalau Nabi Adam as itu digoda syetan.
Jawabnya sederhana saja. Seperti halnya Allah memberikan pengetahuan kepada para ilmuwan adalah untuk mendekatkan ketahanan aqidah (tauhid) yang bisa diilustrasikan seperti elektronik. Kita tahu bahwa gelombang elektronik yang mampu berhubungan dengan alat lain, dikarenakan adanya kesamaan rangkaian input dan outpunya. Mislanya pancarangan gelombang yang masuk karena adanya kesamaan spare partnya, frekuensinya dan lain-lain. HP bisa koneksi dengan HP lain sehingga berkomunikasi, karena adanya kesamaan jenis sparepartnya.
Begitu juga antara manusia dan syetan ada kesamaan “sparepart” yang mengeluarkan “frekuensi” berupa nafsu. Karena itu godaan gelombang tersebut menggoda nabi Adam asa yang ada di dalam syurga. Setan cukup di pintu saja, kemudian ia menggoda nabi Adam as. Tetapi yang perlu ditekankan bukan Nabi Adam yang digoda secara langsung tetapi melalui isterinya terlebih dahulu. Syetan tidak mampu menggoda Nabi Adam as. Karena itu Allah menciptakan Nabi Adam as tidak sendirian tetapi ada isteri di sebelahnya. Nah syetan ini kemudian berhasil menggoda isterinya. Kalau saja tidak ada sayang kepada suami, maka Siti Hawa tidak akan membawakan buah terlarang kepada sumai tercinta. Dari sinilah kemudian Nabi Adam as ikut tergoda.
Sorga menangis, bahkan pakaian yang menutupi kedua manusia pertama itu luruh tidak mau menempel di badannya. Semuanya menyesalkan tetapi hanya emas dan perak yang tidak ikut menangis. Kenapa tidak menangis, lalu keduanya menjawab: “Ah buat apa menangis, ini kan karena perbuatan dosa mereka.”
Kemudian Allah menempatkan posisi emas dan perak sebagai barang yang berharga. Kedudukan emas dan perak benar-benar menjadi barang yang sangat menarik hati mausia dan benar saja saat hadir dii dunia menjadi bahan rebutan dan bahkan pemicu pertarungan antar manusia.
Pertanyaan berikutnya, kenapa Nabi Adam as sebagai seorang utusan Allah swt sampai tergoda oleh isterinya. Jawabnya bisa diibaratkan dengan ilustrasi berikut.
Allah adalah sutradara, sementara syetan, Nabi Adam dan isterinya adalah pemer annya. Seperti seorang pemain sinetron yang berhasil, pemeran antagonis, pemeran yang sesuai dengan skenario atau pemeran jahat akan berpengaruh kepada penontonnya. Image atau kesan penonton kepada tokoh antagonis dan tokoh baik itu akan terus melekat. Maka jika demikian yang terjadi, berarti tokoh tersebut telah berhasil memerankan sandiwaranya.
Pengaruh itu akan terus berlanjut si penonton tentu melihat adegan fragmen di sorga itu akan geregetan dan menjuluki syetan sebagai tokoh yang jahat, Nabi Adam sebagai pemeran yang baik. Namun begitu turun dari panggung sandiawara, maka para pemeran itu diberi ucapan selamat, kalian pemain watak yang luar biasa.
Allah sangat memuji kepada Nabi Adam as, karena keberhasilan menjadi pemain watak, hadiahnya diangkat menjadi manusia pertama, walaupun melakukan kesalahan pertama. Itulah Allah yang telah memposisikan Nabi Adam as dan memuliakannya.
Begitu juga kepada syetan, ia tetap sebagai makhluk Allah yang jahat. Tokoh jahatnya ini terus melekat. Karena diitibarkan seperti pemain yang berhasil sehingga sepertinya benar benar penjahat, sampai di pasar-pasarpun ia tetapi diposisikan sebagai makhluk yang jahat.
Sengaja
Itulah peristiwa Nabi Adam as yang sebenarnya, yaitu Nabi Adam a.s bersama isterinya keluar dari sorga karena digoda oleh syetan. Kita tahu, bahwa keluarnya Nabi Adam as itu sengaja, sebab yang namanya masuk sorga itu harus didahuli peristiwa keluar terlebih dahulu, baru nanti masuk dan kekal di dalamnya. Tidak mungkin kalau berada di sorga ada ungkapan dalam al quran “yadkhulkhuluunal jannata zumaro”, orang-orang yang masuk syurga itu berbondong-bondong.
Akhirnya kita mengetahui kisah dan peristiwa ini berasal para Rasul yang membawa kabar dari Tuhan untuk kita. Lagod jaakum rosulun min an’fusikum, ‘azizun ‘alaihi maa ‘anittum, kharisun bil mu’miniina roufurrohim. (Surah:9 Ayat: 128).
Beruntungnya kita adalah masih bisa mendengar apa-apa yang disampaikan oleh para Rasul sehingga kita itu tahu kalau saja tidak ada al Quran hadir di tengah-tengah kita, niscaya kita tidak tahu asal keturunan kita dari Nabi Adam AS. Demikian juga mana tahu kita dengan cerita tentang Firaun, Qorun dan lain lain.
Kemudian digambarkan pula, bahwa Nabi Adam as itu adalah sama seperti kita, yang tingginya tidak seberapa. Allah itu tidak mengganti ciptaanya, atau “Laa tabdila likholkillah….” Jika ada yang berkata Nabi Adam as dulu tingginya 30 meter ah rasanya tidak, beliau sama seperti kita, dan Allah sudah menegaskan tidak akan mengubah ciptaanNya.
Kesimpulan.
- Kita harus mengakui kalau Nabi Adam as hanya sebatas pemain sandiwara, dan sutradaranya adalah Allah swt.
- Bukan Nabi Adam as yang tergoda oleh Iblis tetapi isterinya;
- Berhasil menggoda isteri Nabi Adam as karena ada kesamaan unsur ciptaannya yaitu nafsu.
- Tidak dikatakan masuk sorga kalau tidak ada proses keluar terlebih dahulu.
Dari Pengajian TQN Kalipasir, 7 Mei 2009
